ANAK MISKIN KAYA PRESTASI 
Oleh: Abd Rahman Hamid (Korwil PKH Sulawesi Selatan)
 
Bermula dari cerita Pendamping PKH Kecamatan Tamalate, Nabahan, mengenai rencananya memberikan penghargaan bagi anak PKH berprestasi. Rencana itu disampaikan setelah rapat koordinasi di Dinas Sosial Kota Makassar pada 16 Mei 2012 lalu. Saya setuju dan mendukung niat baik itu. Dia melanjutkan, jika banyak anak-anak yang juara, saya tidak tau mau ambil uang dari mana? Tetapi, meskipun demikian, saya sudah janji  dan harus ditepati. Setelah rakor dan buka puasa bersama di tempat yang sama pada 27 Juli, Nabahan kembali menemui saya. Dia menyampaikan, bahwa sudah ada 7 anak yang berhasil diidentifikasi punya prestasi sangat baik, yakni juara 1 sampai 3. Sembari memperlihatkan selembar kertas bertuliskan Penghargaan kepada anak PKH yang akan diberikannya, Nabahan mengatakan bahwa lusa, “saya akan menyerahkan hadiah ini kepada anak berprestasi tersebut di rumah mereka masing-masing.” 
 
Pada malam Senin (30 Juli), saya membuka face book pada group UPPKH Kota Makassar. Mataku tertuju pada postingan terbaru dari Nabahan, berisi narasi dan foto pemberian penghargaan itu, dengan tajuk PKH Award. Saya memberi apresiasi positif atas kreasinya. Lewat layar itu, saya meminta dia menyiapkan data-data pendukung, khususnya laporan pendidikan sebagai bukti rekaman prestasi. Tak puas dengan komentar itu, saya menghubunginya via telepon, memintanya untuk menemani saya menemui anak dan keluarga berprestasi itu.
 
Malam tanggal 4 Agustus, saya kembali menghubungi Nabahan, berkaitan dengan rencana kunjungan itu. “Kebetulan besok saya pertemuan kelompok Pak, jadi sekalian saya antar Bapak bertemu salah satu keluarga yang anaknya berprestasi,” kata Nabahan. Kami pun membuat janji, akan bertemu pada esok hari pukul 10 pagi di depan kantos Pos Bungaya. Setibanya saya di sana, sekitar 5 menit kemudian Nabahan datang. Tanpa banyak berbincang, kami langsung ke rumah warga yang dituju.
 
Dengan sepeda motor masing-masing, kami menyusuri lorong-lorong rumah warga di Kelurahan Balang Baru. Jalanya cukup sempit, hanya bisa dilewati satu unit motor. Jika harus berseberangan, maka salah satunya harus berhenti dan menepi, memberi kesempatan bagi pengedara lain. Saat memasuki salah satu lorong, ada sebuah motor yang parkir di bibir jalan, sehingga cukup sulit bagi saya dan Nabahan mengemudi dan mengendalikan motor kami. Tetapi, kami tetap melanjutkan perjalanan. Menyusuri pinggiran kanal. Lima menit kemudian, kami tiba di depan sebuah rumah sangat sederhana. “Kita sudah sampai Pak, kata Nabahan”
 
Mengawali percakapan kami, Nabahan memperkenalkan saya kepada seorang Ibu yang paruh baya, sebagai teman kerja yang ingin tau mengenai anaknya yang berprestasi di sekolah. Ibu itu tersenyum, lalu bertanya, apa yang bisa saya ceritakan Pak? Saya memulai pembicaraan, dengan terlebih dahulu memberi tahu bahwa saya mendapatkan informasi (anaknya berprestasi) dari Nabahan. Karena itu, saya penasaran ingin tau lebih lanjut, mengenai cara ibu mendidik dan mengawasi jam belajar anak sehingga berprestasi. Tampak dari wajahnya, sang ibu sangat senang, setelah mengetahui maksud saya.
 
Namun, ditengah percakapan kami, tiba-tiba terdengar suara tangis kecil. Ternyata, ibu itu mencucurkan airmata, setelah saya mengajukan pertanyaan “siapa nama ibu?” dia menjawab, Andi Rosdiana. Oh … Ibu Andi ya, dari Bone? kataku. “iya pak, saya (memang) Andi, tapi miskin”, sahutnya disertai tangis kecil. Nabahan mencoba menenangkan situasi, sementara saya mengalihkan pembicaraan pada hal lain yang bisa membuatnya kembali tersenyum. Akhirnya, sang ibu dapat mengendalikan emosinya, bercakapan pun dilanjutkan. 
 
Sekadar informasi, kata Andi di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya etnis Bugis, merupakan gelaran bangsawan. Umumnya mereka adalah orang terhormat, baik dari segi sosial maupun ekonomi. Sehingga, mereka yang memiliki gelaran ini akan sangat bangga. Tetapi, hal itu tidak dialami oleh Ibu Andi Rosdiana, karena realitas ideal itu tidak dirasakannya. Itulah sebabnya dia sangat malu.
 
Meski kami sudah berusaha mengalihkan arah pembicaraan dari status ekonomi, namun sang ibu masih terus bicara pada hal yang berkaitan dengan itu. Dia meneruskan, bahwa kebanyakan anak-anak di sekolah punya HP, sementara anak saya tidak punya. Sering kali anaknya diejek oleh teman sekolahnya. Pasalnya, dia adalah anak dari keluarga kurang beruntung. Ibunya, dulu bekerja sebagai pencuci di sebuah laundry, adalah kader Posyandu Asoka 1 Kecamatan Tamalate, sedangkan bapaknya sebagai buruh harian bangunan. “Sudah satu minggu, suami saya tidak dapat gaji dari mandornya. Mereka mengerjakan bangunan di Balai Kota Makassar. Makanya Pak, kami sangat susah mau beli kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk anak sekolah”, kata sang Ibu.
 
“Apakah kamu tidak merasa minder/malu karena dipandang sebagai keluarga miskin di kalangan teman-temanmu di sekolah?”, tanyaku pada anak pertamanya, Andi Suci Wulandari. Dia menjawab, “tidak, saya tidak malu!”. “Syukurlah”, kata Nabahan. “Kondisi kemiskinan tidak boleh membuatmu malu. Justru kamu harus lebih giat lagi belajar, agar kelak kamu sukses. Tidak miskin lagi. Kamu mau kan?”, tegas Nabahan, sambil menatap penuh harapan pada Suci yang berdiri tegak disampingnya. Saya melanjutkan, “meski orang tuanya kaya, tapi banyak juga (anak) dari mereka yang bodoh”. “Betul Pak”, kata sang ibu, sambil menatap wajah anaknya, seakan meyakinkan kata-kataku kepadanya.
 
Melihat kondisi rumahnya memang sangat memprihatinkan. Berada dekat kanal, yang sewaktu-waktu bisa banjir/meluap dan membasahi rumah mereka. Kanal di depan rumah pun sangat kotor. Saya membayangkan kala malam hari, sudah pasti banyak nyamuk. Sulit rasanya tidur jika diganggu oleh makhluk itu. Tetapi, tidak ada pilihan lain. “saya sudah tinggal disini lebih dari 20 tahun Pak”, kata sang ibu. “Ini adalah warisan dari orang tua saya. Sejak lahir, besar, dan kawin, saya tinggal di rumah ini”.
 
Untuk bisa belajar pada malam hari, Suci dan adik-adiknya harus membakar obat nyamuk atau mengoleskan autan di wajah mereka agar tidak digigit oleh nyamuk. Untunglah, listrik sudah masuk di rumah ini, sehingga anak-anak bisa memanfaatkannya untuk belajar pada malam hari. Tetapi, ruang belajarnya sangat sempit. Luas bangunan rumah sekitar 4 meter (panjang) x 3 meter (lebar).
 
Di dalam rumah hanya terdapat 1 meja plastik hijau tua dan 4 kursi. Dua diantaranya saya dan Nabahan duduki, lalu sisanya oleh ibu dan adik bungsu, Ahmad Nugraha. Meja dan 2 kursi itu ditempatkan di ruang yang lebarnya sekitar 1 meter. Kami tak bisa bergerak leluasa, karena ruang tamunya yang sangat sempit. Sekitar 3 x 2,5 meter digunakan sebagai kamar keluarga.
 
Dinding rumah terbuat dari beton dan papan/tripleks, yang sudah agak rapuh. Atapnya dari seng. Pada siang hari terasa panas. Untunglah saat kunjungan itu, waktu menunjukan pukul 10.30, cuaca belum panas. Meskipun demikian, anak-anak bermain di sekitarnya, antara rumah dan tembok kanal yang jaraknya lebih kurang 2,5 meter, tak terkecuali Dini Rahmadani, salah satu anaknya yang ketiga (dari 5 bersaudara),sedang asyik bermain.
 
Ibu Andi Rosdiana mempunyai lima orang anak. Yang pertama adalah Andi Suci Wulandari, kini kelas 7 di SMPN 24 Makassar. Anak kedua bernama St. Nurhalizah, kelas 4 SD Tanggul Patompo 1. Yang ketiga, Mutmainnah, juga di SD yang sama kelas 2. Dua adiknya, yakni Dini Rahmadani (6 tahun) dan Ahmad Nugraha (4 tahun), belum sekolah. Sejak awal menjadi peserta PKH, kata Nabahan, komitmennya sangat baik (utuh), sehingga selalu mendapat dana bantuan maximum yakni Rp.2.200.000,- per tahun atau Rp.550.000,- tiap triwulan.
 
Dalam mendidik anaknya, Ibu Andi Rosdiana selalu menekankan keberanian. “Biarki tidak tau, yang penting berani”, itulah kalimat didik sang ibu kepada anak-anaknya di rumah. Kalimat itu selalu terngiang dibenak anak-anaknya. Mereka tumbuh dan berkembang sebagai anak yang memiliki jiwa keberanian. Nabahan menyela, “saya juga belajar dari Ibu Diana soal keberanian Pak”. Tak heran, putri pertamanya yang akrab dipanggil Suci sejak kelas 4 sampai 6 SD selalu jadi Ketua Kelas. Dia tidak pernah takut memimpin, apalagi memang itu adalah hasil pemilihan oleh teman-temannya.
 
Terpilihnya Suci sebagai Ketua Kelas, tidak hanya karena faktor kepemimpinan dan kepercayaan, tetapi juga kecerdasan yang dimilikinya. Di kalangan teman-temannya, dia dikenal cukup pendiam, baik dalam pergaulan di sekolah maupun lingkungan tempat tinggalnya. Tetapi, dalam hal belajar, dia adalah anak yang sangat aktif. Waktu belajarnya di rumah, mulai setelah shalat Magrib sampai jam 9 malam. Bahkan, kadang sampai larut malam (jam 12) jika harus mengerjakan PR-nya. Ibunya selalu meluangkan waktu mendampingi putrinya belajar. “Jika ada PR yang saya tidak tau, saya tanya sama Ibu”, kata Suci. Dia pernah satu kali dihukum oleh gurunya karena tidak selesai mengerjakan soal Matematika. “Saya juga tidak tau cara menjawabnya waktu itu Pak, sehingga saya tidak bisa bantu dia”, kenang sang ibu. Memang, dari semua mata pelajaran di sekolah, yang paling kurang dipahami oleh Suci  adalah Matematika. Pasalnya, sangat susah dipelajari. Tetapi, sebaliknya, pelajaran yang paling dikuasainya adalah IPA.
 
Capaian prestasi belajar Suci luar biasa. Saya sangat kagum melihat rekaman hasil belajarnya di laporan pendidikan. Coba perhatikan dibawah ini, prestasinya ketika masih di SDN Tanggul Patompo 1 Kecamatan Mamajang, kelas 2 sampai kelas 6.
 
Tahun   Kelas    Peringkat Tiap Semester
 
                          Ganjil                  Genap
2007     2           V                         V
2008     3           II                         IV
2009     4           I                           I
2010     5           I                           I
2011     6           I                           I
 
Sumber: Diolah dari laporan pendidikan A. Suci Wulandari 
 
Selain kegiatan belajar rutin di kelas, Suci juga aktif dalam kegiatan pengembangan diri. Pada kelas 5, tidak tanggung-tanggung, dia langsung mengikuti tiga kegiatan sekaligus, yakni Pramuka, Relawan Sekolah, dan Dokter Kecil. Khusus di kegiatan Dokter Kecil, Suci dan satu lagi temannya secara bergiliran mendapat tugas memberikan penyuluhan tentang kesehatan di depan teman-teman di kelas. Dengan modal jiwa keberanian yang selalu ditanamkan oleh ibunya di rumah, Suci tidak pernah menolak untuk tampil. Meskipun kadang gugup, tetapi Suci selalu berupaya mengelolanya, sehingga dia bisa menyelesaikan penyuluhan dengan baik dalam durasi 10 menit. Tiga aspek penting yang dipresentasikannya adalah mengenai gizi, kebersihan, dan pentingnya menjaga kesehatan. Dalam hal terakhir, Suci sangat piawai memperagakan cara mencuci tangan yang baik sebelum makan atau sesudah makan, yang ditampilkannya saat kami berkunjung di rumahnya.
 
Berkat pengalaman sebagai Dokter Kecil itulah, yang sampai hari ini sangat berkesan, Suci bercita-cita ingin menjadi dokter. Dan orang yang paling diperhatikan, ketika jadi dokter nanti, adalah Ibu, Bapak, dan Adik-adik saya, kata Suci dengan penuh yakin dan bangga. “Itupun kalau saya mampu menyekolahkan mereka ke jenjang yang lebih tinggi sampai kuliah”, kata sang Ibu dengan penuh harapan.
 
Kondisi ekonomi keluarganya teryata masih menghantui perjalanan masa depan anaknya. Saya mencoba menguatkannya. Ibu tak perlu terlalu khawatir. Selama anak-anak ibu berprestasi, mereka punya kesempatan besar untuk mendapatkan beasiswa dari pemerintah ataupun donator lainnya yang peduli pada pendidikan dan peningkatan derajat sosial anak dari keluarga kurang beruntung, yang memiliki semangat belajar dan cita-cita tinggi. Yakinlah bu. Dan jangan lupa terus berdoa kepada Tuhan, kataku.
 
Kini, Suci berada di kelas 1 SMPN 24 Makassar. Sudah dua minggu dia masuk sekolah. Semoga prestasinya tetap dipertahankan, bahkan ditingkatkan sehingga niat sucinya untuk mengangkat derajat keluarganya dapat tercapai, tentunya perlu sentuhan tangan-tangan dermawan yang peduli pada anak miskin yang berprestasi.
 
Berbeda dengan Suci, adiknya yang bernama Mutmainnah yang kini kelas 2 SDN Tanggul Patompo 1, bercita-cita ingin menjadi Polisi Wanita (Polwan). Luar biasa. Saya sangat kagum dengan mimpi anak-anak itu, yang membuatku sadar bahwa status sosial dan ekonomi bukan dasar mimpi besar kesukseskan, melainkan kemauan kuat untuk menggapai masa depan yang lebih baik.
 
Status juga bukan dasar prestasi belajar. Hal itu dibuktikan oleh dua adik Suci yang kedua dan ketiga. St. Nurhalisah, pada penaikan kelas tahun ini (2012), berhasil meraih Juara 1 di SDN Tanggul Patompo 1. Demikian juga adiknya, Mutmainnah pada sekolah yang sama di semester ganjil dan genap tahun 2011-2012, mendapat juara 2. Dengan demikian, dari 7 anak yang diberi hadiah oleh Nabahan, tiga diantaranya adalah buah hati dari Andi Rosdiana dan Suku Daeng Rurung.
 
Tampaknya, firus prestasi sang kakak (Suci) telah menular kepada adik-adiknya. Semoga firus prestasi itu terus menjangkiti mereka, juga anak-anak lain dari keluarga kurang beruntung. Karena hanya dengan ilmu, kebahagian dunia dan akhirat dapat digapai. Dengan pendidikan yang baik, derajat sosial dan ekonomi mereka dapat ditingkatkan. Itulah harapan bangsa. 
 
 
Sumber : Linjamsos